The Meaning of Life : Pernakah Kalian Merasa: “Sudah Cukup”, Hidupku sudah Damai, Lalu Apa Lagi ?

“Pernakah kalian merasakan ‘titik kedamaian dalam hidup’, jika kita sudah berada di situ, lalu apa yang kita cari lagi di dunia ini. Aku beberapa kali berada pada titik itu, dan kadang membuatku nampak tak berambisi apapun akan hidup ini. Aku penikmat hidup ini, apapun yang kualami, selalu kunikmati, karena aku yakin itulah cara Tuhan mendidikku,…

The Self-Discovery : “perjalanan” sesungguhnya adalah proses mengenali diri sendiri

“penjelajahan yang abadi adalah pengetahuan, pengembaraan sahaja di dalam pikiran, petualangan mensyukuri langkah atas kuasa-Nya sampai bila, “perjalanan” sesungguhnya adalah proses mengenali diri sendiri” -Fuji Riang- ada satu hal yang paling aku ingat dari materi kuliah anthropology of Travel yang aku pelajari di Radboud University Nijmegen-Belanda, adalah menyoal “makna perjalanan” dari seorang Turis. Masyarakat Eropa…

Menerabas Ingatan, Membangun Imaji dan Mimpi, RIANG, 18 Sept 2014

“tak perlu payah hidup dikejar, hidupilah hidupmu dengan manfaat pada sesama” NS Train Nijmegen-Amsterdam-Leiden-Utrecht-Nijmegen, 18 September 2014 Riang, sudah 15 kali kau mengucapkan pada dirimu sendiri selamat ulang tahun, pada lembaran jurnal harian yang telah kau tulis sejak usiamu 9 tahun, sejak pertama kali mengenal betapa pentingnya mengingat setiap jengkal detik, menit, hari, minggu, bulan, tahun…

(The Meaning of Life) Tanjakanku: Nikmati Langkahmu

Hidup bagiku adalah tanjakan, dan seni mencapai puncak, ya, walaupun ku bukan seorang penakluk gunung, tapi kuyakini itu adalah filosofi yang diamini bagi mereka yang pernah merasai tanjakan.. ku mulai ceritanya, dengan bayangan visual salah satu tanjakan paling indah di gunung semeru ini… dahulu..ketika, di masa kanak-kanak, betapa lapangnya pijakan kaki kita, lepas bebas dapat…

Sebuah Review menarik Selepas Menjadi pemateri di sarasehan Institute for Community Behavioral Change

Sebuah pepatah dari suku pribumi Selandia Baru, Maori, menyebutkan bahwa “Me tiro whakamuri a kia ha ngai whakamua”. “Melihat ke belakang supaya dapat melangkah maju dengan tujuan”. Tanpa pemahaman mendalam akan masa lalu kita, usaha-usaha untuk membuat masa depan yang lebih baik akan menjadi sangat terbatas. (Robertson & Masters-Awetere, dalam Reich dkk., 2007). *** Kerap…