Aku Siapa ?

DSCF5932

Loving Sociology and Living Anthropologically

Anglaras Ilining Banyu, Angeli tur Ora Keli, Aja Mandheg Sakdurunge Nelesi, Nanging Ojo Ngrusak sing Dilewati.

(an Indigo ‘gifted child’ for the world) 

(2008-2012) S.Sos. Sociology, Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

(2014-2015) M.Sc Anthropology and Development Studies, Radboud University Nijmegen, the Netherlands

Prospective PhD/ Doctoral Program, Radboud University Nijmegen (2018-)

https://www.facebook.com/fuji.prastowo

Dilahirkan dengan nama lengkap FUJI RIANG PRASTOWO di Kota Yogyakarta pada 18 September 1990. Sebuah kombinasi nama yang unik dari dua trah keluarga Jawa Yogyakarta. Seperti keluarga Jawa yang menganut sistem bilateral pada umumnya, aku tidak memiliki nama keluarga. Melainkan sejarah namaku berasal dari dua keluarga besar bapak dan ibu.

Fuji adalah nama yang diberikan oleh keluarga ibu Dwi Yunari Astuti, yakni dari keluarga Simbah Kakung Eri Paridjan; tepatnya dari om yang bernama Fuji juga, yang bermakna Fuji dalam arti gunung di Jepang yang sebenarnya. Keluarga ibu berasal dari bukit Srunggo, Selopamioro, Imogiri Bantul. Simbah buyutku Ki Saripin Dardjono adalah Demang Jogoboyo, kalangan ningrat Mataram yang ditempatkan untuk memimpin wilayah Srunggo, sebuah desa di sekitar Gua Cermai yang berbatasan langsung dengan Gunung Kidul. Secara historis Gua Cermai merupakan wilayah penting penyebaran Islam di wilayah selatan pulau Jawa pada masa Wali Songo. Dahulu Gua Cermai juga merupakan tempat persembunyian Pangeran Diponegoro ketika berperang melawan Belanda. Dari sisi maternal keluarga ibu adalah ‘lembu petheng’ keturunan pelarian Majapahit yang menetap area Giringan Paliyan di pegunungan Karts Gunung Kidul. Beberapa anggota trah keluarga ibu tersebut kemudian ada yang diangkat selir di Kraton Jogja atau Solo. Gelar ningrat terakhir dipegang oleh Nenekku (ibunda ibu) dengan gelar ningrat paling bawah yakni Raden Roro Sri Suwarni. Setelah itu tak ada satupun keluarga yang menggunakan gelar ningrat “bagi kami status sosial tidak ditentukan oleh siapa kamu, tapi apa yang kamu lakukan untuk kebaikan”. Kini, keluarga ibu didominasi oleh pegawai pemerintahan yang hidup menyebar di seluruh Indonesia dan dunia. Sampai dengan saat ini, 2016, aku masih memiliki simbah buyut putri dengan umur 115 tahun lebih yang menetap di Srunggo.

Prastowo adalah nama belakangku yang berasal dari bahasa Krama Bagongan, pemberian dari keluarga Bapak Slamet Dalijan yang merupakan Klan Jawa Mataram. Prastowo bermakna peristiwa besar atau kehormatan. Keluarga bapak tinggal secara komunal di Sidikan, Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Secara historis, kampung Sidikan yang masih berada di area kuno Kotagede telah ada sejak tahun 1550-an, pada masa-masa awal Kerajaan Mataram Islam. Sidikan adalah pemukiman pertama seorang pangeran Mataram Islam yang bernama Pangeran Raden Rangga (ada yang mengatakan anak Panembahan Senopati, ada pula yang mengatakan anak KI Ageng Mangir). Karena perilakunya yang dinilai buruk, Raden Rangga dibunuh suruhan Panembahan Senopati yakni Ki Juru Marthani. Ia diikat (ditaleni) di sebuah ladang (Tegalan) yang kemudian wilayah tersebut dinamakan Nalen. Ia lalu dibunuh dengan ‘disorog’ dengan senjata api panas, yang kemudian wilayah pembunuhannya dinamakan Sorogenen. Kemudian jasadnya dimakamkan di sebuah desa bernama Nitikan.

Di Sidikan, keluarga bapak tergolong tetua desa. Kakek Buyut yang bernama Ki Somoredjo adalah Kawula Dalem Mataram yang hidup dengan rakyat biasa dan diberikan tugas menjaga makam (Abdi Dalem Pamethakan) Kerajaan Mataram dan Trah Tepas Dalem Hamengkubuwono II Keraton Yogyakarta di Sidikan. Kawula dalem adalah kerabat dalem yang memilih hidup dengan rakyat biasa dan meninggalkan gelar ningrat tepas dalemnya. Secara antropologis, kondisi masyarakat Sidikan dekat dengan budaya Kotagede-nya yang sangat kental yakni komunalisme. Sampai sekarang, bapak dan klan-nya hidup mengelompok dalam keluarga yang besar dalam satu-dua-tiga kampung berdekatan. Jika ditelusur satu kelurahan bisa saja kami saling terikat satu sama lain. Aku lahir dan besar disini, dengan tradisi komunal yang terlampau kental.

11781854_10207631082162119_8444952606308048749_n

DSCF0176

Sedangkan Riang adalah nama dari buah cinta ayah dan ibuku yang ketika itu menikah muda. Lalu keutuhan arti nama tersebut adalah

sebuah peristiwa besar yang membahagiakan seagung dan sebesar gunung“.

Dimaksudkan agar aku selalu riang dalam segala situasi. Benar saja, aku paling dikenal suka tertawa dan jarang sekali marah atau sedih. Tepatlah aku sebagai seorang anak yang bernama Riang. Kombinasi yang cukup aneh bagi orang Jawa, tapi aku bersyukur memilikinya.

RIANG 

13165946_10209697894711141_1352924450896664992_n

WIN_20141120_144958

Ethnotraveler, 

adalah caraku menyebut laman blog ini, menjadi traveler tidak selalu berhubungan dengan kegiatan senang-senang belaka. Jalan-jalan ke tempat baru dan diakhiri dengan prosesi narsistik yang mainstream. Traveling yang memadukan unsur Etnografi di dalamnya, tak hanya merefleksikan suatu tempat atau budaya yang dikunjungi. Tetapi juga meliputi refleksi diri seorang penjelajah di dalan perjalanannya itu.

penjelajahan yang abadi adalah pengetahuan, pengembaraan sahaja di dalam pikiran, petualangan mensyukuri langkah atas kuasa-Nya sampai bila, “perjalanan” sesungguhnya adalah proses mengenali diri sendiri”

-Fuji Riang-

riang

My World Map Journey (per September 2014)

10447098_10204550808797210_4442571672063280473_n

Perjalanan Penelitian Madagaskar, Afrika. 2014

Sejak kecil, ketika sudah mengenal menulis, atau usia 8 tahun, aku memiliki kebiasaan mencatat peristiwa sehari-hari yang aku alami, belasan tahun sudah kebiasaan itu aku jalani tanpa putus setiap hari, semuanya aku tuliskan, (peristiwa dan perasaan) dalam ribuan lembar buku harian.

Memiliki catatan harian setidaknya akan membuat kita lebih dapat mensyukuri setiap kejadian dalam hidup kita ini. Setiap detik, menit, hari, minggu, bulan, dan tahun selalu nampak spesial, karena akan ditulis pada setiap lembar buku, atau kini sudah mulai kuketik.

‘KITA ADALAH AKTOR UTAMA DI DALAM PERJALANAN KEHIDUPAN INI”

Hidupku yang hanya sekali, membuatku selalu ingin mengabadikan kenangan setiap hari dalam memori. Setiap menjelang ulang-tahunku, akan kubuka tulisanku sejak SD hingga tahun terbaru, pasti ada saja yang membuat tertawa sendiri. Dengan begini, aku lebih paham karakterku sendiri daripada orang lain. Pendewasaanku berasal dari bagaimana aku merefleksikan setiap hari yang kujalani. Perjalanan, persahabatan, momen, waktu, dan diri. Kata orang aku termasuk anak Indigo dengan kelebihan sosialnya. Memang, tak hanya dunia kasat mata yang dapat kulihat, namun juga dunia gaib dan segala yang dalam pikiran manusia. Tak logis memang, tapi ini dapat dijelaskan dengan perspektif metafisika. Bahwa mereka-mereka yang tak terlihat ini seperti ‘energi tak kasat mata’. Tak dapat dilihat tapi dapat dirasakan seperti sinyal wifi. hehee

Tak tahunya, memang inilah yang digariskan Tuhan padaku, ternyata memiliki catatan harian adalah hal yang lumrah bagi para petualang. Kita selalu merujuk suatu kejadian sejarah pada catatan harian dari seorang petualang seperti Marcopolo, dll. Bagiku, setiap hari adalah sejarah, dan aku adalah petualang itu sendiri yang mengarungi setiap sejarah yang aku buat.

“ternyata, memiliki buku harian adalah kebiasaan yang lekat dengan profesi Antropolog dengan ‘log-book harian etnografinya, dan sekarang aku semakin yakin dengan bakatku ini. Di Etnografi, setiap antropolog wajib menuliskan pengalaman dan refleksi setiap harinya akan fenomena yang dia hadapi lewat catatan harian, dan ini adalah proses wajib dalam metode etnografi. Jurnal antropolog ini tanpa perlu dipaksakan, sudah menjadi bagian dari hidupku”. 

dan mulai dari saat ini, disela-sela waktu luangku, aku akan menulis semua pengalaman lengkap, pemikiran dan kecintaanku pada budaya nusantara di blog ini…sehingga tak hanya aku yang membacanya, tapi akan mengabadi selamanya..memotret setiap perjalananku dari sudut pandang antropologi. Hutang pengetahuan dan pengalaman adalah alasan utama, kenapa aku ingin menulisnya lebih luas lewat blog. Aku bukan guru, tapi pengalaman adalah guruku, dan aku adalah aktor dalam pengalaman itu.

aku dibesarkan di kota cantik bernama Jogja, dari lahir hingga menginjak usia kuliah pun aku lewati di Jogja. Kemudian aku aktif di kegiatan sosial dan budaya di kota cantik ini..sejak tahun 2010 aku tergabung sebagai relawan anak dalam museum anak kolong tangga, sebuah yayasan anak di jogja yang bernama yayasan dunia damai. lantas, aku sangat dan sangat mencintai budaya nusantara, aku lewati pengalamanku di berbagai acara budaya Jogja seperti Jogja Museum Festival, Opera Karnaval, Jogja Java Carnival, dan Biennale Jogja XI. Kini pun, tahun 2014 aku dipercaya sebagai peneliti di Biennale, dan diberikan kesempatan menginjakkan kaki di Afrika dan India sebagai peneliti.

Blog ini kutulis ketika aku sedang mengerjakan skripsiku, tepatnya tahun 2011-2012, disaat otak masih terpatri dalam ratusan lembaran kertas menelisik proses transformasi identitas kampung bahasa inggris di pare. Penelitan skripsi kulakukan secara periodik sejak tahun 2010, dengan metode etnografi, observasi partisipasi di Pare, lokasi penelitiannya Clifford Geertz, bersama mahasiswa master sosiologi kala itu, Kak Asnani, MA yang kini menempuh pendidikan Doktoral di IPB.

Tahun 2012, aku menjadi sarjana dari jurusan sosiologi UGM, dengan predikat lulusan terbaik. Selama kuliah, aku tidak suka mengumbar identitasku sebagai orang yang akademis, aku lebih suka punya banyak kawan tanpa predikat “pintar atau rajin” tapi teman yang riang, yang suka membantu sesama. Bahkan sampai lulus, orangtuaku pun tidak tahu berapa IPK ku sebenarnya, Aku hanya mengatakan “pak, bu datang lebih pagi, namaku depannya F, jadi bakal disebut lebih awal” haha. Bagiku, pencapaian bukanlah soal seberapa IPK yang kau punyai, tapi seberapa besar pengalaman yang telah kau raih, Aku bersyukur selama kuliah minimal sudah memulai keliling Indonesia, dengan cara yang sangat merakyat (gembel), bagiku petualangan dan pengalaman lebih penting dari selembar kertas ijazah, aku memang orang yang tak suka di puji, tapi orang pun harus tahu, bahwa aku bisa hidup “secara seimbang” tanpa mengorbankan salah satu dari kehidupan mahasiswa. Main jalan tapi tetap berprestasi

Fuji Fisipol

dulu, sengaja aku memilih sosiologi sebagai pilihan pertama, tak seperti anak yang menjadikannya pilihan cadangan ketika ujian masuk UGM, belajar masyarakat itu sangat menyenangkan bagiku, belajar masyarakat sama halnya belajar tentang kehidupan, tentang bagaimana menghargai dan mencintai negaramu lebih dalam.

sempat aku merasa kecewa karena di jurusanku jarang ada praktek lapangan seperti yang aku harapkan, seharusnya aku jatuh di pilihan keduaku mungkin, antropologi budaya, jurusan di FIB ini lebih kucintai karena memang ilmu ini yang seharusnya kuharapkan ada di jurusanku, karena sudah terlanjur, aku menyiasatinya dengan mencampurkan kedua jenis ilmu ini menjadi satu, toh, keduanya tak jauh beda, selama 4 tahun kuhabiskan nafsu ilmu sosialku yang tak kutemukan di sosiologi, ke antropologi, hingga wajar jika karya skripsiku cenderung ke arah antropologi menganalisis masyarakat Pare Kediri.

alasan tersebutlah yang membuat kaki ku terus melangkah berjalan pelan mengelilingi nusantara, setiap liburan semester kujelajahi pulau pulau di nusantara, Jalan-jalan lebih membuatku ilmu sosiologiku lebih berguna dan aku dapat menjadikan setiap liburanku seperti riset lapangan. mengenal kebudayaan betawi di kepulauan seribu, suku sasak pedalaman budha di lombok, suku manggarai di flores dan sebagainya.

lalu kemudian, perjalanan adalah bagian terbesar dari hidupku..

aku sangat atau terlalu cinta dengan sebuah perjalanan, setiap perjalanan selalu memberikan pelajaran berbeda-beda buatku..makna hidup dan kebahagiaan aku dapatkan dari sebuah perjalanan…

Kini, pada September 2014, aku memulai babak baru kehidupanku, aku diberikan kesempatan Allah SWT untuk melanjutkan studi ke Radboud Universiteit Nijmegen, dengan jurusan Anthropology and Development Studies, “kalau dokter boleh menentukan spesialisasinya, maka Antropolog pun boleh, hanya ada dua Antropologi di dunia ini yang menyediakan program Anthropology of Mobility, yakni Soas University of London dan Radboud Universiteit Nijmegen, dan karena Belanda lebih “pas” untuk studi antropologi dengan banyak Indonesianisnya, maka dengan mantap kulangkahkan kakiku kesini.

Tak berhenti disini, kakiku akan terus melangkah, menelusuri perjalanan hidup, mencari pengalaman, dan dalam doaku, semoga kelak umurku bermanfaat pada sesama.

Silahkan menghubungiku via email ini :

fujiriang@gmail.com

18 September 2014

——-

Fuji Riang Prastowo, Yogyakarta 18 September 1990 : SD Negeri Kotagede III Yogyakarta (1996-2002), SMP Negeri 9 Yogyakarta (2002-2005), SMA Negeri 10 Yogyakarta (2005-2008), Sosiologi, Universitas Gadjah Mada (2008-2012), Anthropology and Development Studies, Radboud University Nijmegen Belanda (2014-2015)……..

 

22 pemikiran pada “Aku Siapa ?

  1. Aku agak penasaran dengan tanjung Aan, dulu aku merasa sudah pernah ke Pantai Kuta Lombok, tapi kok kalau dari ciri-ciri yang kubaca selama ini aku menginjakkan kai di Pantai Tanjung Aan … Jadi Pantai tanjung Aan itu sebelah mananya pantai Kuta ya ????

    • tanjung aan itu memang sebelahan dengan pantai Kuta lombok, kalau di tanjung aan ciri cirinya berbukit tinggi dan laut membentuk tanjung, jd bukan ombak langsung, emang tetanggan gitu pantainya, kalau di kuta lombok sudah ada jalan setapak yg dibuat hotel yg blm jadi, hayoo silahkan dicek dulu ke tanjung aan atau kuta lombok, haha

    • ini mas andri bukan yaa…hehehehe, gak ada namanya mas, hehe..wah wah beruntungnya ketemu disini, mas andri yang ada dimalang itu kan, teman saya magang di pulau komodo mas, mbak umi kembali buat tiga bulan disana lagi…*bikin iri, hehehe

  2. Salam kenal mas fuji. Aku mau tanya ttg otokol dr bajo ke ende. Aku insya Allah dgn teman2 bklan backpack d flores. U/ otokol-ny gmna crny bs bayar & “pesan” seat-nya? Lalu nunggunya dmn? & mekanisme lain agar bs dapet tebengan di otokol ini ke ende dr bajo? Thanks 🙂

    • halo salam kenal juga, kalau kamu dari Labuan Bajo, akan banyak sekali otokol disana, di sepanjang jalan Labuan Bajo, otokol masih favorit jadi kendaraan org manggarai. Model kota Labuan Bajo, cantik sekali, masih model kampung nelayan sekali, tahun 2011 aku kesana. Oiya, disana langsung tembusin ke supirnya aja, di charter. Tapi yakin mau naik untuk ek Ende ? itu jauuuuuuuh sekali, kita dulu 30 jam PP, sudah pasti sakit dimana mana, haha..mending saranku, naik bus antar kota, di Labuan Bajo ada terminal menuju Ruteng (ruteng kota dingin bgt di Flores), kalau kalian mau ke Wae Rebo bisa juga, sebelum ruteng. itu, nah dari Ruteng kalian bisa istrirahat dulu dimana, nyari masjid buat tidur pasti boleh, atau kalau kuat, langsung lanjut aja naik bus ke Ende, itu lebih disarankan lo ya, drpdp truk otokol, hehe

  3. Salam kenal mas fuji..menarik tulisannya,, 8 tahun kebelakang saya belum lama keluarga berdomisili di kampung nitikan,, masih ada kah rumah tinggal mas fuji di nitikan mas ? mungkin lain waktu ketika sedang di indonesia menarik mendengarkan filosofi kampung ini lebih jauh mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s