Catatan Indigo : Perjalanan Spiritual ke Mandala Leluhur, Prabu Brawijaya V di Candi Ceto dan Candi Sukuh, Karanganyar

Aku, orang Majapahit di Gunung Kidul!

 Sejak kecil aku selalu mendapat dongeng dari keluarga simbah putri dari garis ibu jika dulunya leluhur kami adalah pelarian Majapahit saat keruntuhan Kerajaan besar Majapahit pada abad ke 14 yang kemudian menetap di pengunungan tandus bernama Gunung Kidul.

DSCF0994

Siang itu, Sabtu 1 Juli 2017, sepulangku dari acara kumpul trah Proyoijoyo atau Ki Srunggo yang mendiami perbukitan Srunggo di Imogiri aku menuju ke arah Pantai Sundak di mana teman-temanku berada di sana untuk menginap semalam di villa di sana. Trah Proyoijoyo sendiri menurut penuturan awal cerita perkumpulan trah telah terdiri dari 18 generasi, atau dengan kata lain leluhurku ini memang pemukim pertama di pengunungan selatan Jogja.

Perjalanan dari Imogiri ke pantai sundak tidaklah jauh jika melintasi jalur selatan Panggang yang jalannya sudah sedemikian lebarnya. Sampai di Panggang, aku berhenti di satu-satunya Indomaret yang ada di Panggang yang notabene dahulunya adalah tanah simbah buyutku dari garis ibu. Menurut penuturan Simbah Putriku, dahulunya ayahnya yang bernama Mas Penewu Projowiryono adalah Lembu Petheng (anak dari selir luar istana, salah satu dari penguasa Kraton pecahan mataram yang tidak diperkenankan disebutkan di sini oleh simbah). Sudah menjadi ‘kebiasaan’ para penguasa mataram entah itu Mataram di Kotagede, Jogja atau Solo sejak 500 tahun yang lalu selepas mereka nyekar di pemakaman Ki Ageng Giring di Gunung Kidul, pasti mampir untuk mencari selir luar istana dari garis langsung Ki Ageng Giring yang dipercaya keturunannya lembu petheng kelak menjadi “taksu” atau berkat dari leluhur. Garis leluhur simbah sendiri adalah garis orang “pintar” dan terpandang dari garis Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Wonontoro yang merupakan para pangeran anak Brawijaya V yang menetap di pegunungan Gunung Kidul sejak keruntuhan Majapahit di abad 14 lalu. Sudah menjadi kebiasaan sepulang dari menyekar pasti mampir ke pantai, terutama di Ngobaran untuk ‘menyapa’ alam benteng terakhir para leluhur hindu terdesak oleh peradaban Islam.

Dari garis ibu jelas aku memiliki keturunan Majapahit. Dari garis ayah juga kudapatkan haris keturunan Majapahit. Garis ayah yang menetap di Sidikan Kota Yogyakarta merupakan kawula dalem Hamengkubuwono II yang diberikan tanggung jawab sebagai Abdi Dalem Pamethakan menjaga makam selir Bendara Mas Ayu Pudjaninigsih. Setelah kejadian di Belanda yang sering sekali aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan perawakanku tapi berkulit sangat kuning bersih dan menetap di pinggir kali progo. Tahun 2016 saat nyadran bersama keluarga, aku malah mendapati fakta yang cukup mencengangkan jika dari garis leluhur bapak sendiri juga dari pelarian Majapahit bernama Ki Bahu Lawe atau Kyai Mertinggi yang di batu nisannya dikisahkan ia adalah seorang prajurit Majapahit yang mengawal pangeran Prabu Brawijaya V yang lari hingga ke arah Ki Ageng Mangir di Mangiran. Ki Bahu Lawe dimakamkan di Temben, Lendah Kulonprogo tepat di pinggir kali progo dengan kerangka tahun batu nisan pada 1488 masehi atau beberapa tahun setelah kerajaan Majapahit runtuh di Jawa Timur.

Pengalaman Niskala, gaib

Sepulang dari Belanda, -terutama setelah aku mengalami pengalaman niskala-, minatku untuk mempelajari “siapa leluhurku” ini begitu kuat. Hingga ketika di pantai sundak, saat aku menceritakan babad gunung kidul yang sangat panjang pada teman-temanku, aku sendiri sudah meramalkan ‘nanti malam’ pasti akan ada penguasa gaib dari laut selatan yang akan mengunjungiku. Terlebih ketika jalan-jalan di pantai Sundak, aku temui beberapa orang yang secara sengaja menghidupkan dupa untuk perangkat sesajen ritual kejawen mereka. “duh, dalam hatiku”. Sebagai seorang yang ‘sudah terbiasa melihat’ gaib-gaib aku mulai cemas dan takut.

Memang agamaku sendiri yang aku anut menyebutkan kita tidak boleh takut pada mahluk gaib. Tapi bagi mereka yang bisa melihat dan “hidup langsung” dengan mereka, ini menjadi persoalan. Hal ini dikarenakan mahluk gaib itu menurutku ada tiga jenis; pertama adalah mereka yang berakal tinggi seperti manusia, banyak di antara golongan ini yang beragama dan tidak, ada yang golongan putih atau juga yang hitam dan liar. Kedua adalah para jin yang kurang berakal, tempatnya menunggu di bangunan-bangunan sepi dan pohon. Ketiga adalah jin ifrit, atau qodham dalam terminologi Islam yakni Jin yang menjadi pendamping manusia sejak dia lahir.

Ketika aku lahir, aku sudah memiliki “dua teman” yang entah siapa mereka, dan kenapa aku yang harus mendapatkannya. Namun aku sendiri sudah terbiasa dengan mereka, malah kadang menjadi teman jika kesepian.

Malam itu di Pantai Sundak ketika aku bercerita banyak hal gaib kepada salah satu temanku yang juga memiliki indera keenam bernama Jojo, seketika angin di sekitar kita menjadi terhenti dan hawa panas tiba-tiba datang. Duh, dalam hatiku. Kenapa aku menceritakan begitu detail bahwa pantai-pantai selatan ini adalah tempat-tempat suci Majapahit. Ketika Brawijaya V, leluhurku, raja terakhir Majapahit terdesak oleh anaknya Raden Patah yang mendirikan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa bernama Demak, saat itulah beberapa anaknya, selir, kaum arya, jejanggan, prajurit, dan para pelarian Majapahit lainnya di pengunungan tandur Gunung Kidul yang tidak bisa menerima kabar menyerahnya raja junjungan mereka di Gunung Lawu, akhirnya banyak yang
“mati obong” (bakar diri) atau balapati (bunuh diri) di pesisir-pesisir pantai selatan sepanjang Gunung Kidul hingga Pacitan. Pengakhiran hidup dengan cara membunuh diri sendiri adalah sebuah kehormatan bagi para warna ksatria dibandingkan memilih menyerah.

DSCF6090

Malam itu aku terbangun dengan hawa yang panas. Sekujur badanku menggigil panas. aku yang tidur di depan beranda villa sudah tidak kuat dengan datangnya mahluk-mahluk liar dari laut selatan ini ke tempatku. Entah apa tujuan mereka, yang jelas pasti adalah sangat mengangguku tidur. Sedangkan teman-temanku seperti mayat hidup, aku coba bangunkan Ocit, teman perempuan di sampingku tapi dia juga tidak sadar. Bagi manusia awam, logikanya ini aku sedang berhadapan dengan ular liar, pasti ada takutnya lah. Kalangan jin-jin yang berakal dari pantai selatan ini memang berenergi begitu kuat. Sedangkan dua pendampingku sejak lahir adalah dari kalangan Brahmana pertapa Hindhu dan pertapa Buddha dari leluhur yang keduanya perempuan dan sangat lembut. Sampai suatu ketika aku benar-benar tidak tahan dan lari ke mushola di dekat pantai. Di sana aku segera solat tahajud sebelum subuh datang dan berzikir sesuai agamaku yang diajarkan oleh orang tuaku sejak kecil.

0

3.5 Jam perjalanan Niskala dari Pantai Sundak ke Gunung Lawu

Dalam kondisi setengah sadar adalah titik lemah seorang Indigo yang dikuasai oleh energi mahluk halus. Sampai dengan sekarang aku masih belajar cara mengendalikan energi ini agar tidak terbawa arus oleh mereka. “hanya teori belaka yang mengatakan manusia pasti menang dari bangsa jin”, hei coba kalian jadi aku, baru tahu rasanya kalau sudah begini.

Setengah sadar, dan kondisi masih belum sepenuhnya bangun.

Aku melaju dengan kecepatan penuh menuju ke wonosari dengan motor !. Kurang dari sejam aku sampai di Wonosari jam 06.00. aku sendiri berangkat dari Pantai Sundah jam 05.15 selepas menunaikan ibadah solat subuh.

Sampai di Wonosari pikiranku menjadi sangat random !

Sebagai orang yang tinggal di Kota Jogja, tentunya sudah sangat biasa pulang dan pergi ke Gunung Kidul melalui jalur Piyungan atau Panggang. Sebagai anak yang kritis sejak kecil, aku selalu bertanya, bagaimana caranya para pangeran dan selir majapahit besembunyi di Gunung Kidul jika kondisi jalannya begitu naik turun, sedangkan 500 tahun yang lalu mereka hanya menggunakan kuda dan kendaraan sederhana. Sungguh mustahil dan sangat berat pasti.

Karena penasaran itulah aku ingin mencoba turun dari Gunung Kidul lewat jalur Semin dan turun di Sukoharjo.

Begitu terkejut aku.

Masyarakat Hindu Ngawen di Gunung Kidul

Sepanjang melewati Ngawen dan Semin tak henti hentinya aku menemukan pemandangan yang menurutku sangat unik dan tidak pernah kuduga aku temukan di sepanjang jalan aku menuju ke Sukoharjo dengan motor. Bagaimana tidak, sepanjang jalan aku temukan Pura Hindu.

Berdasar data yang dilansir Biro tata pemerintahan (Tapem) DIY, data awal 2016 ini terdapat 1.140 penganut agama Hindu di seluruh Gunungkidul. Dari keseluruhan penganut, jumlah terbanyak berada di Kecamatan Ngawen, Gunungkidul. di wilayah ini berdasar sumber yang sama ada 700 penganut.  (http://kabarhandayani.com, 2017)

Berdasar penuturan Ganto, pemangku Pura Podo Wenang, yang berada di Padukuhan Kaliwaru, Desa Kampung, di Kecamatan Ngawen terdapat 6 Pura, yakni Ngesthi Beratha, Dharma Jati, Podo Wenang, Bhakti Widhi Dan Bhakti Dharma, dan Pura Ngelo.

Ngawen tidak dapat dipisahkan dengan Pangeran Sambernyawa dan Pura Mangkunegaran, demikian sebaliknya, Pura Mangkunegaran (Pangeran Sambernyawa) tidak bisa dipisahkan dari Ngawen, karena dari Ngawen Pangeran Sambernyawa menjalankannya strategi-strategi perjuangannya dalam melawan Penjajah Belanda, disisi lain sebuah proses pemantapan dari sebuah tujuan perjuangan dilaksanakan dengan bertapa di Gununggambar, hanya saja untuk menyebutkan tahun berapa Ngawen berdiri dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam lagi. Secara tahun Ngawen berdiri sebelum tahun 1813 terbukti dari sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul pada tanggal 27 Mei 1831; namun itu tidak termasuk Ngawen karena Ngawen menjadi enclave (bagian) Mangkunegaran; telah tersebut sebuah daerah Ngawen, sehingga bisa dijadikan sebuah awal pemikiran bahwa Ngawen itu ada sebelum tahun 1831. (sumber http://www.gunungkidul-online.com/, 2017).

Sungguh kacau dalam benaku. Bagaimana mereka bisa mempertahankan idealisme leluhur untuk tetap berdarma Hindu di saat banyak pemimpin mereka yakni anak-anak Brawijaya V sendiri memilih untuk menjadi Islam ketika terdesak oleh pasukan Demak di Gunung Kidul. Salut. Begitu terharu aku melihat mereka mampu bertahan di tengah masyarakat Islam, yang bisa jadi pernah melakukan diskriminasi pada darma yang mereka lalukan.

DSCF6148.JPG

Pohon Munggur/ Trembesi yang menyimpan kisah pilu

Sampailah aku di satu tempat yang membuatku penasaran. Tempat itu adalah suatu sendang di bawah pohon Munggur atau Trembesi yang berada di perbatasan Gunung Kidul di Semin menuju ke arah Sukoharjo. Sebagai seorang antropolog aku turun karena penasaran. Sengaja aku turun di Pura yang lumayan jauh dari Pohon itu berada untuk mendapatkan jawaban yang aku mau. Karena jika aku tanya dengan masyarakat Islam disitu bisa jadi jawabannya tidak sedetail orang Hindu di Ngawen yang sangat menghargai leluhur terjauhnya.

Suatu kisah pilu dari pohon.

Pohon Munggur atau Trembesi ini bukanlah pohon asli vegetasi Gunung Kidul yang gersang dan tandus karena tanah kapur. Pasti ada manusia yang membawanya dan menanam pohon tersebut di tempat ini. Namanya sendang Brumbung. Warga sekitar mengeramatkannya dan selalu dilakukan bersih desa tahunan di bawah pohon munggur itu.

Benar saja dari penuturan warga sekitar, pohon-pohon Munggur ini adalah sebuah penanda yang ditanam oleh para selir Prabu Brawijaya V kepada para anak-anaknya yang akan bersembunyi di pengunungan kidul. Pesan tersebut berbunyi salah satu dari keturunan Prabu Brawijaya V harus mampu mengangkat kembali kejayaan Majahapit yang runtuh karena Islam Demak. Dan selama penantian tersebut akan setara dengan besarnya pohon Munggur yang ditanam. Sehingga wajar jika tahun pelarian tersebut berkisar pada tahun 1480-an saat keruntuhan Majapahit, usia-usia pohon ini sudah mencapai lima ratus tahun lebih.

Sayangnya, penantian tersebut kandas sudah !. Islam justru makin berkembang dengan pesatnya dari kerajaan baru setelah Demak yakni Pajang dan Mataram Islam. Pendiri kerajaan itu sendiri malah berasal dari salah satu pangeran Bondhan Kejawan anak selir Brawijaya bernama Wandhan. Dapat dikatakan Bondhan Kejawan ini adalah LEMBU PETENG dari Brawijaya V, karena sejak kelahirannya di kraton Keling (sekarang Pare, Kediri), ia dibuang ke wilayah Tumapel (sekarang Malang) kepada salah satu akuwu (satuan wilayah setara dusun). Ia dan ibunya terpaksa dibuang dikarenakan api cemburu dari permaisuri Putri Champa Amarawati pada kehadiran seorang pangeran dari emban yang berasal dari Wandhan (Banda, Maluku). Akhirnya keberadaan Bondhan Kejawan diketahui oleh Prabu Brawijaya V dan langsung ia titipkan putra lembu pethengnya tersebut kepada seorang akuwu di Tarub (sekarang Purwodadi), yakni Ki Ageng Tarub yang dikenal dengan Jaka Tarub dengan kisah legenda 7 bidadarinya itu. Di Tarub, Bondhan Kejawan justru memeluk darma baru bernama Islam dan dari garisnya akan lahir penguasa-penguasa Jawa baru, yakni Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Mataram Islam di Kotagede (Sabda Palon, 2017). Cerita tentang Bondan Kejawan ini dapat ditemukan di Babad Tanah Jawi, atau sumber-sunber internet lainnya.

Singkat kata, nasib pelarian orang Majapahit yang tinggal dan menetap di Bali jauh lebih baik dari pelarian Majapahit ke Gunung Kidul ini. Banyak di antara anak Prabu Brawijaya V yang justru memilih Islam sebagai darma baru mereka, termasuk di sini adalah leluhurku Ki Ageng Giring dan Wonontoro.

DSCF6198

Gunung Lawu : Benteng Terakhir Majapahit

Dulu aku sangat takut memasuki area gunung lawu di karanganyar. Tetapi setelah banyak kejadian niskala yang aku alami di Belanda seperti : https://fujiriang.wordpress.com/2017/03/27/hidup-kedua-ku-selamat-dari-ajal-karena-hipotermia-di-belanda/

aku menjadi tidak takut pada wilayah-wilayah yang aku anggep sebagai tempat wingit dulunya.

Gila. Dari pantai sundak aku bisa sampai ke karanganyar. Entah apa namanya ini. terlebih jalan yang aku lalui lumayan sulit yakni secara acak tidak menggunakan GPS aku lewat Jempolo dan kawasan tandus karanganyar lainnya yang medannya byuuh susah, entahlah pada waktu itu otak dan kesadaranku benar-benar tidak sinkron, sampai akhirnya aku makan soto di alun-alun karanganyar, disitulah aku mulai sadar. Fuji, ngapain sampai ke karanganyar !!

DSCF6337

Gila, aku berangkat dari pantai selatan, dan sampai di karanganyar. Ngapain fuji !. niatku cuma turun Gunung Kidul dari jalur Klaten atau Sukoharjo lalu berbalik arah ke kota Jogja, yang ada aku malah sampai ke Karanganyar. Disitulah aku langsung memutuskan untuk pergi ke Candi Cetho dan Candi Sukuh yang sudah aku sering mimpikan sejak kecil lanskapnya.

Perjalanan dari Karanganyar ke Candi Cetho dan Sukuh pun bukan perjalanan yang singkat. Sangat jauh dan melelahkan, tapi dengan pemandangan perkebunan teh semua lelah hilang seketika.

DSCF6178

DSCF6192

Candi Sukuh

Pertama kali aku ke Candi Sukuh. Candi ini menurut narasi adalah candi “baru” yang dibangun pada akhir-akhir peradaban Hindu Majapahit. Pembangunan pada masa keruntuhan Majapahit menyebabkan candi ini begitu acak, namun magis. Sebelum kesini, aku belajar mendalam dulu tentang serat darmagandhul. Serat Darmagandhul adalah suatu karya Sastra Jawa Baru berbentuk puisi tembang macapat yang menceritakan jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.

Candi ini bagiku memiliki aura kesedihan yang sangat kental dibandingkan aura pendarmaan atau pemujaan Hindu. Sungguh yang kurasakan begitu dalam mengamati dan menyentuh pahatan-pahatan kasar yang dibuat bukan oleh pemahat tetapi warna Ksatria yang turut dalam perjalanan Tirtayatra Prabu Brawijaya V. Wajar saja jika pahatan dan tata letak candi begitu random dari buah tangan Arya pendamping : Arya Gajah Para dan Arya Banggah, serta Jejangan Punakawan: Sabda Palon, Naya Genggong dan pengikut penduduk lokal lereng lawu turut serta. Konon di candi inilah sang prabu ‘moksa’ setelah memilih merestui anaknya Raden Patah memimpin Jawa dengan darma Islam barunya. Di candi inilah kejayaan Majapahit benar-benar hilang dari tanah Jawa.

Cukup berdiam lama. Berusaha menyapa para “taksu” energi, jin atau apalah kalian menamakannya. Aku lebih suka menggunakan terminologi menghormati mereka sebagai penunggu candi selama ratusan tahun. Sedangkan kita tamu, hanya seorang manusia yang berumur kurang dari 100 tahun. Jadi wajarlah aku menghormati mereka yang lebih tua.

Duduk di sudut candi sambil memandang lemah candi. Prabu, pakulun, dalem Marak !. Eyang Prabu, saya berkunjung juga akhirnya. 500 tahun lebih yang lalu kau wariskan darah ini yang mengalir ke tubuhku lewat anakmu pertapa yang menetap di Gunung Kidul dan lewat prajurit Arya setiamu. Kini aku datang. Bagaimanapun ini adalah mandhala leluhurku. Berdiam sejenak dan mendoakan leluhur, lalu terhanyut oleh aura magis nan sedih yang mendalam.

DSCF6237

DSCF6227

Candi Cetho

Jarak antara candi cetho dan sukuh lumayan jauh dengan medan naik turun melewati lembah dan perkebunan teh. Candi Cetho ini lokasinya benar-benar di paling tinggi lereng gunung lawu. Melewati dusun Cetho, aku tiba di sana dengan motor kesayanganku, bernama Slamet Honda.

Struktur candi yang berundak-undak adalah model sinkretisme antara Hindu dengan ajaran asli Jawa sebelum Hindu masuk. Disana aku justru tertarik dengan petilasan pepunden Ki Ageng Krincingwesi.

Punden Ki Ageng Krincing Wesi merupakan salah satu bagian dari gugusan candi Cetho yang berjumlah 13 trap. Punden Ki Ageng Krincing Wesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho berada pada trap yang kedua, merupakan juru kunci dari Candi Cetho pada masa kekuasaan Brawijaya V. Ki Ageng Krincing Wesi sebagai seorang juru kunci juga selalu dengan setia menemani sang Prabu dalam melakukan laku spiritual. Ki Ageng Krincing Wesi secara spiritual dianggap mempunyai kekuatan bathin yang sama dengan dua penasehat raja tersebut (Sabdopalon dan Noyogenggong).

Melewati Candi Cetho aku terheran-heran dengan beberapa sisa petilasan pendarmaan baru yang aku pernah baca dari Sabda Palon dan babad-babad yang menceritakan keruntuhan Majapahit bahawa dulunya di sekitar Cetho ini adalah pasetran, atau tempat peletakan jenazah Siwabuda. Perlu diketahui dulu leluhur kita mengenal tiga jenis pemakaman yakni diletakan di pasetran hingga jasadnya dimakan oleh binatang buas, dibakar, atau ditenggelamkan dalam air. Pasetran-pasetran yang ada di Gunung Lawu ini mengerikannya dulunya dimanfaatkan oleh penganut tantra Bhairawa untuk melakukan ritual yang dianggap sesat sejak jaman Mataram Kuno. Tantra Bhairawa ini menggunakan jasad sebagai media ritual dengan cara memakannya mentah-mentah dengan kucuran darah dan pesta seksual di lokasi sebagi wujud puja pada dewi durga. Inilah yang kemudian mendasari rombongan Brawijaya untuk mendirikan pendarmaan baru di Candi kethek tak jauh dari Candi Cetho sebagai CANDI PERUWATAN, atau Candi pertobatan.

Aura yang ada di candi Kethek juga sangatlah magis. Modelnya yang mirip bangunan megalitikum pundek berundak membuat candi kethek begitu istimewa.

Dari atur “marak”-ku yang kedua ini aku kembali duduk tenang menghadap ke Candi Kethek yang tersembunyi di dalam hutan. Duduk dan berdoa di tengah alam yang sunyi. Gusti, terimakasih telah mengantarkanku ke alam leluhurku ini, sebelum aku kembali berkeliling dunia mencari ilmu ini.

DSCF6295

DSCF6315

Perjalanan Niskala, Perjalanan Spiritual

Aku Islam dan aku penganut Kebatinan. Aku memaknai cara beragamaku selain dengan ritual yang diajarkan dalam Islam seperti solat, puasa, dan sebagainya. Aku juga begitu senang menyelami dunia spiritual yakni kebatinan. Banyak orang mengatakan aku ini kejawen. Tapi aku tidak kejawen karena aku tidak melakukan sesajen-sesajen seperti layaknya penganut kejawen. Perjalanan spiritualku begitu sangat panjang dan akan kuceritakan pada sesi cerita blog yang lainnya. Tidak di halaman ini. sebagai seorang agnostik, atau tanpa agama bertahun-tahun menjadi kembali ke Islam dengan cara seperti ini aku menjadi lebih tenang. Ziarah ke tempat-tempat leluhurku adalah suatu penghormatan terhadap leluhur. Aku datang untuk mendoakan mereka atas suatu ucap syukurku kepada kehadiran dan karunia yang aku terima di alam dunia ini. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang ada pada jiwa tuaku sejak kecil adalah karunia dari leluhur yang selalu setia dengan mandala-mandala darma mereka sebagai pertapa atau kaum brahma, yakni pengetahuan dan keselerasan ketenangan batin.

Kunjunganku ke Gunung lawu di situs-situs leluhurku adalah nazarku yang telah aku tunaikan setelah aku mendapatkan gelar master dari Belanda dan setelah aku berhasil membawa isu diaspora jawa sedunia masuk ke Indonesia. Aku kini berupaya menyebarkan pengetahuanku lewat sebuah organisasi bernama www.golonggilig.org bersama Dinas Kebudayaan DIY dengan dukungan Kraton Jogja untuk mengupayakan produksi produksi pengetahuan tentang jawa sedunia.

Marak ke Candi-candi leluhur adalah penghormatan pada sejarah bahwa dahulunya leluhurku adalah Siwabuda, Hindu dan Budha. Sekarang aku dan keluarga besarku memang memilih darma Islam, tetapi pilihan itu tidak akan pernah mengubah tradisi penghormatan terhadap leluhur dengan ziarah. Jawa Majapahit dengan Jawa kontemporer begitu berbeda. Tapi aku beruntung dibesarkan dengan campuran keduanya, sehingga tidak berwataka Islam impor yang mengharamkan ini itu. selama niat kita ziarah, insyallah Allah merestui karena dengan begini kita lebih cinta dengan sejarah kita sendiri.

“Pakulun prabu, dalem marak ring gunung kidul sareng timpal-timpal ring Mataram Islam Kotagede”. Menyapa para “penunggu niskala” di lokasi yang mereka tidak akan menyangka, 500 tahun lebih sejak keruntuhan Majapahit, Jawa menjadi semakin terpuruk dengan kehadiran penjajah Belanda selama tiga ratus tahun lebih. Ketika dulu Majapahit dikenal ketangguhannya menyatukan nusantara, tidak ketika Pakulun Prabu Brawijaya moksa. Tak ada satu pun kerajaan Mataram Islam yang murni tangguh dan besar seperti Majapahit. Kemerdekaan Jawa hanya dinikmati 70 tahunan sejak Indonesia lahir. Sebelum itu para leluhur dan taksu yang berada di mandhala ini tak pernah membayangkan jawa menjadi begitu berubah, dan aku datang membawa berita, suatu saat jawa seluruh dunia akan kembali bersatu, pakulun. Aku bersumpah akan mengawalnya lewat ilmu pengetahuan menyatukan orang jawa yang telah tersebar ke seluruh dunia. Memberitakan hal baik (prastowo) penuh ke(riang)an sebesar gunung (Fuji).

DSCF6345

Kututup perjalanan aneh ini dengan solat magrib di kraton solo.

Karanganyar 2 Juli 2017,

Catatan Indigo tentang masa lalu dan kini.

Fuji Riang Prastowo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s