Catatan Indigo : Hidup Kedua-ku; Selamat dari Ajal Karena Hipotermia di Belanda.

nijmegen2

November 2014, tak banyak yang mengetahui detail tentang ceritaku ini selama menempuh pendidikan master di Radboud University Nijmegen di Belanda, bahwa aku sempat “akan menemui ajal” karena hipotermia di kamar apartemenku sendiri.

Aku sangat ingat dengan detail kejadianku ini sesuai dengan apa yang aku catat dalam buku harianku. Hari Sabtu, tanggal 1 November 2014, aku pindahan dari apartemenku yang letaknya di Lent menuju ke tengah kota Nijmegen di Talia yang letaknya persis di samping stasiun Nijmegen. Kepindahanku ini dengan alasan lokasi apartemenku di Lent yang sangatlah jauh dengan lokasi kampusku, di mana setiap hari aku harus mengayuh sepeda kurang lebih 45 menit dengan catatan harus mendaki dua jembatan yang tinggi dan panjang; jembatan pertama adalah jembatan jalan khusus sepeda, sedangkan jembatan kedua adalah jembatan yang melintasi sungai Waal yang panjangnya kurang lebih 2 kilometer.

Aku pindah menuju Talia, sebuah student apartment merupakan bangunan baru milik kampusku yang baru saja diresmikan beberapa hari sebelum kepindahanku, di mana aku adalah generasi pertama penghuni apartemen yang sangat megah dan bagus ini !.

Wajarnya aku ini orang ndeso, aku pikir semua rumah orang Belanda ini otomatis akan hangat ketika kita masuk ke rumahnya. Mengingat udara di bulan November sudah drop ke angka titik terendah hingga 2-5 derajad di malam hari, aku sudah membayangkan hangatnya kamarku setelah banyaknya jadwal begadang yang kulalui menjelang ujian tengah semester ini.

Bersama Paolo Pierre, teman Itali; Elodie, teman Prancis; Wei, teman China; aku pindah ke apartemen baru yang sangatlah mewah. Mungkin jika di Jakarta aku seperti sedang tinggal di kawasan elit sudirman atau kuningan, sangatlah beruntung tinggal di sini.

Berhubung ini malam minggu, teman-teman lantas pamitan untuk pergi clubbing. Sedangkan aku tinggal di rumah sendiri untuk belajar ! Lagian sangat capek pindahan seharian ini bolak balik naik sepeda Lent-Nijmegen-Lent-Nijmegen. Aku sudah curiga kok kamarku dingin dan angin bisa masuk ya. Aku pikir akan baik-baik saja, karena aku sendiri tak tahu cara menghidupkan heater kala itu. aku pikir, ah nanti akan panas sendiri, ini masih dingin wajar karena baru aku tinggali hari ini. kemudian…

“aku merasakan tubuhku mendadak sangat dingin, membeku, badanku panas, kemudian aku panik karena sungguh perih sekali sesak di paru-paru, hingga aku kesulitan napas dan tak sadar, rasa perih yang tak pernah kurasakan, rasanya aku akan meninggal”

instagram

Entah jam berapa kejadiannya, aku tak sadar. Aku masih sempat posting ke instagram sekitar jam 20.15 jika mendadak demam panas. Sosial media di saat seperti ini menjadi ‘teman’ penghubung dimensiku yang sedang kesepian membutuhkan dukungan teman. Pertama kalinya sakit di tanah rantau. Kesadaranku mulai menurun setelahnya. Tak banyak yang kuingat, mendadak pusing yang teramat sangat dan nyeri-nyeri di ujung-ujung kuku kaki dan tangan.

Tubuhku kaku membeku, yang kurasakan setiap ujung kukuku begitu perih, kuping ku membeku dan paru-paruku kesulitan bernapas. Awalnya aku masih bisa membalut kakiku dengan 7 kaus kaki, menghangatkan badan dengan termos. Sampai pada satu titik aku kedinginan mendapati ANGIN KENCANG masuk ke kamarku !. Kudapati ventilasi yang aneh di atas jendela yang menyebabkan angin kencang masuk ke kamar. Padahal kulihat di info cuaca di luar sudah menyentuh -1 derajad. Aku tak tahan ya Allah betapa dinginya malam ini. Tak kudapati heaterku menyala dengan benar. Dingin total !!

Ya Allah, aku memegang selimutku dengan erat. Berharap teman-teman segera pulang dari clubbing. Saat itu tak ada sama sekali bir, vodka atau wiski di rumah karena kita benar-benar sedang pindahan. Untuk situasi seperti ini, aku benar-benar membutuhkan alkohol untuk menghangatkan badan. Aku tahu alkohol haram tapi tak ada cara lain. Namun sialnya juga tak ada di kulkas.

Ya Allah, yang kuingat waktu itu aku masukan tanganku ke kemaluanku, satu-satunya titik yang masih aku anggap hangat, menggigil sambil memegang batu yang kuambil di depan rumahku, tangan satunya memegang tasbih dan foto kedua orangtuaku ketika aku wisuda.

“Ya Allah apakah ini akhir perjalanan hidupku ?” aku pasrah.

Jam berapa entah, angin menjatuhkan pernak-pernik yang kutata dijendela, mataku mulai kabur, dan AKU LIHAT BADANKU SENDIRI. Subhanallah. Proses keluarnya ruh ku dari tubuhku ini dimulai dari penyesalan akan segala dosa yang telah kuperbuat. Sepertinya mata ini diperlihatkan segala dosa kita dari kecil sampai umur 24 tahun ini. kulihat dengan penuh penyesalan hidupku belum dapat berbuat banyak bagi manusia. Lalu memori itu seolah-olah mundur kebelakang.

“aku melihat sosok-sosok keluargaku, dari orangtua, adik, nenek,kakek, almarhum nenek kakek buyut hingga leluhurku paling jauh yang membuka hutan mentaok di kotagede saat dinasti Islam, bahkan leluhur yang lari dari majapahit, bahkan lebih. Sampai memori itu beralih ke MEMORI BALITA. Bahwasanya ada memori yang hilang dari manusia ketika ia dewasa, yakni memori umur 2-4 tahun. Di saat proses ruhku lepas dari tubuhku, seolah-olah seperti film semua memori ini berputar di depan mata. Aku melihat ibu bapaku menikah, hamil hingga aku dilahirkan di rumah sakit Jogja, ibuku yang hendak meninggal karena tersedak ari-ariku, hingga fase-fase susah semuanya yang AKU INGAT SEMUA. Aku menangis, kemudian pasrah”

Aku tak mengingat berapa lama kejadianku ini terjadi. Sebagai anak yang terlahir “memiliki kemampuan berbeda sejak kecil” –atau sebagian orang disebut memiliki indera keenam, atau indigo-. Kulihat ia Jin yang selalu mengikutiku sejak aku lahir, sosoknya begitu cantik, mendampingiku sambil meratapi tubuhku yang mendingin. Ia melihat arwahku di samping badanku.

Tak berapa lama, pierre datang teriak, Elodie juga, Wei dalam kondisi tidak mabuk. Mereka teriak melihat angin dingin masuk ke apartmen, mendapatiku sudah kaku di dalam kamar !. entah apa yang mereka lakukan, mereka berusaha membawaku ke rumah sakit tapi cuaca angin parah di luar. Sampai kulihat tubuhku terbalut alumunium foil dan seorang dokter datang ke kamar, membawaku pergi ke klinik di dekat apartemen. Badanku mulai menghangat, dan saat itu memoriku HITAM.

Aku mungkin sudah mati. Hitam total, yang aku ingat aku melihat saudara perempuanku yang lebih dulu meninggal ketika kecil, namanya Zainab. Ia mendatangiku dan membawaku berjalan ke arah jalan yang begitu panjaangnya sampai di depan kulihat orang-orang terkasihku yang sudah meninggal dan akan menjemputku, salah satunya adalah putri Majapahit beragama Islam dari Champa Vietnam yang selama ini aku sering temuin dalam mimpi, ia-lah yang menitipkan jinnya untuk selalu menjagaku.

Tapi Allah masih sayang padaku.

Aku ingat Pierre, memeluku sambil telanjang. Aku pun tak berbusana. Aku ingat itu sudah lewat pagi, tapi matahari masih belum bersinar. Elodie masih menangis, wei memegani vodka dan menghampiriku. “Fuji, please wake up, I hear that clearly”. Tanganku lemas mulai bergerak dan memegangi paolo.

Wajah mereka pucat dan aku tersenyum. Ya aku kembali teman. Aku kemudian tertidur lemas. Pierre memeluku dalam kondisi telanjang. Di kamar lantai dasar Talia kini aku bermalam bersama kedua temanku, sedang Wei harus kembali ke kamar karena harus ke Amsterdam minggu siang ini. aku, pierre dan elodie tidur telanjang bertiga. Itu yang aku ingat, hangat tubuh mereka mampu menghangatkanku sembari obat-obatan mulai diberikan. Karena aku darah rendah, obat penambah darah juga turut diberikan. Aku mulai sembuh, walaupun selama sminggu pasca kejadian ini aku masih begitu lemas dan dingin sekali. Sangat dingin.

Hampir setiap hari, Pierre atau Elodie bergantian datang tidur denganku. Mereka datang memeluku tidur sambil telanjang. Tak ada pikiran kotor dalam otaku, mereka adalah sahabat sekaligus keluargaku. Pierre khawatir akan kondisiku, sampai pacarnya Marzia datang dari Italy menjengukku.

Aku terlahir kembali, ya Allah

seminggu pasca kejadian ini, aku lantas membeli penghangat tambahan untuk anjing dan sedia wine atau vodka di dalam kulkas untuk jaga-jaga dalam kondisi dingin yang sangat. Ajaibnya, tubuhku justru tak merasa dingin sama sekali ketika musim salju pada bulan Januari, atau ketika aku terjebak badai salju di Turki yang mencapai -11 derajad celcius, padahal aku hanya menggunakan jaket tipis buatan BANDUNG. Kamarku sudah hangat kembali, walaupun heater kamarku baru bisa bekerja sempurna sebulan setelah kita tinggal

“Ya Allah, sejak kejadian ini aku merasa kau ijinkan hidup kembali. Segala pengalaman mati suri sesaat ini mengajarkan bahwa hidupku ini tak ada apa-apanya di mata-Mu. Ajal bisa saja kapan datang. Segala bentuk bayangan dari balita hingga usiaku yang “baru” ini mengajarkanku untuk terus berbuat baik di masa depan. Tak akan ku siasiakan Tuhan, umurmu ini”

Tulisan ini sengaja aku ceritakan dengan runtut ketika aku terheran-heran dengan badanku, pada bulan 10 November 2016 atau 2 tahun pasca aku “hidup kembali”, selamat dari hipertermia. Aku merasakan ada yang beda dengan tubuhku seperti misalnya aku tidak mampu merasakan dingin lagi. Saat aku di Bromo dimana sebagian besar orang kedinginan, sama sekali tak ada rasa dingin yang kutemui. Bahkan ketika itu ada bule dari Belanda yang  bercakap denganku terheran-heran aku tak berjaket. Adapun aku tidak hanya dapat melihat “mahluk-mahluk halus atau jin seperti yang telah biasa kulihat sejak kecil”, kini untuk beberapa mahluk aku dapat berkomunikasi. Misalnya jin-jin yang menetap hidup di masjid atau tempat ibadah lainnya, dengan cara saling pandang aku mampu berkomunikasi dengan mereka. Keajaiban yang entah bagaimana menjelaskannya adalah aku mempunyai kemampuan lebih merangkul semua golongan, etnis, dan usia. Sampai pada satu titik keajaiban Tuhan pada April 2015 aku dapat menyatukan keluarga Jawa-Suriname 1930-2015 dengan saudaranya di Indonesia dengan cara yang sangat ajaib. Ketika pulang ke Indonesia pun aku dapat menelusuri makam leluhurku yang lama terlupakan tak diziarahi keluarga. Ya Allah.

Ya Allah terimakasih kau telah memelukku kembali dengan caramu. Sejak detik ini aku dilahirkan kembali aku berjanji akan menjaga usia ini sebaik-baiknya hingga akhir hayat.

Nijmegen, Januari 2015 disempurnakan di Bromo, November 2016

kamar

Fuji Riang Prastowo

Iklan

2 pemikiran pada “Catatan Indigo : Hidup Kedua-ku; Selamat dari Ajal Karena Hipotermia di Belanda.

  1. Ping balik: Catatan Indigo : Perjalanan Spiritual ke Mandala Leluhur, Prabu Brawijaya V di Candi Ceto dan Candi Sukuh, Karanganyar | ETHNOTRAVELER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s